Hujan baru saja reda. Air menggenang di beberapa bagian halaman sekolah. Tampak dedaunan yang gugur memenuhi halaman. Di teras sekolah yang masih basah itu, ada empat siswi yang masih berkelakar sambil menunggu mobil jemputan. Aini, Fitri, Ida, dan Yaqina. Mereka berempat tinggal di pesantren Raudlatul Ulum, sekitar lima kilometer dari sekolah ini.
Wajah Yaqina tampak paling bercahaya dibanding ketiga temannya. Siapa yang tak kenal Yaqina. Gadis berkulit putih, berhidung mancung, dengan lesung pipit yang semakin menyempurnakan kecantikannya. Kulit putihnya seakan berwarna bening transparan, hingga membuat otot-ototnya terlihat. Tak hanya itu, Yaqina juga baru saja mendapatkan gelar Pelajar Teladan di sekolah ini.
Sementara itu, di ruang asatidz yang sudah mulai sepi, tampak seorang pemuda yang tak berhenti memperhatikan Yaqina. Pemuda yang bernama Azmi itu baru melaksanakan penelitian di sekolah ini. Azmi sudah lama mendengar nama Yaqina, anak pesantren itu. Azmi masih ingat kekonyolannya waktu pertama kali masuk di kelas XIA. Tanpa basa-basi, setelah memperkenalkan diri, Azmi langsung bertanya, "Mana yang bernama Yaqina?". Pertanyaan yang spontan membuat heboh kelas XIA.
(Bersambung)
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Januari 2018
Jumat, 26 Januari 2018
Abah
“Terimakasih, mohon mengisi nomor hp dan tandatangan di sini.
Atas nama siapa ya?”, ungkapku kepada sosok pemuda berbaju putih itu.
“Abi” Jawabnya.
“Abi? Abidin? Atau Abimanyu?”, tanyaku memperjelas.
“Afwan, Nama saya Abi Dzar Al Ghifari”, jawabnya dengan
sopan.
Aku pun mencari namanya di daftar hadir peserta manasik haji. Tapi
berkali-kali kucari tetap tidak ada.
“Maaf,Mas. Mohon menulis lagi di baris paling bawah ya! Nama
Mas belum ada”, kataku.
Pemuda berkulit putih dan berhidung mancung itu pun menuliskan namanya.Kemudian aku sibuk melayani calon jamaah haji yang lain. Sudah menjadi tugasku setiap hari Ahad membantu paman di kegiatan KBIH yang diasuhnya. Dan disitulah aku bertemu dengan mas Abi.
Sejak saat itu aku dan mas Abi mulai mengenal satu sama lain. Hingga lima
bulan kemudian dia mengkhitbahku untuk menjadi istrinya. Aku menyambutnya dengan baik. Siapa yang tak bersyukur
mendapatkan suami yang tampan, bertubuh jangkung, pinter, alim, dan berakhlak
baik. Siapapun pasti akan dengan senang hati menerimanya.
Singkat cerita, setelah pernikahan, hari-hari kami lalui dengan bahagia. Hingga setahun setelah pernikahan kami, dokter menyatakan aku positif hamil. Alhamdulillah.
“Mas, mas suka dipanggil bapak, ayah, atau abi?”, tanyaku
saat dia menemaniku memasak di dapur.
“Abah”, jawabnya pasti.
Pranggg...!! Seketika gelas yang kupegang jatuh.
Pranggg...!! Seketika gelas yang kupegang jatuh.
“Umiii.... hati-hati dong Mi..! Ada apa kok sampai kaget
begitu?” tanya Mas Abi.
“Aku ga mau panggilan itu Mas. Kumohoon...!”
“Ada apa? Kan sama dengan panggilan umi kepada abah kan?”
“Justru itu mas. Aku sudah kehilangan abah untuk ketiga
kalinya. Dan aku ga mau kehilanganmu mas”
“Umi.. hidup dan mati itu di tangan Allah. Bukan karena
panggilan abah atau abi”
“Ga mas. aku mohon ijinkan aku manggil Abi aja yaa!”
“Tidak Umi. Masak anakku manggil aku sprti manggil nama
aja?” kata mas Abi sambil tertawa.
“Ya sudahlah. Dipanggil ayah aja ya?” aku masih merajuk.
“Sejak dulu, aku sudah bercita-cita untuk dipanggil abah
oleh anak-anak. Sebagaimana aku memanggil abah serta mengidolakannya. Ijinkan aku mewujudkannya ya Mi..!” katanya memohon.
Akupun dengan berat hati akhirnya mengangguk.
Sebenarnya bukan sekedar masalah sebutan ayah atau abah. Namun, aku agak trauma.
(Bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)